“Siswa ABK kami fasilitasi dengan smartphone dalam belajar mengajar, kemudian untuk baca Al-Quran disediakan khusus dengan huruf Arab braille. Jadi ada aplikasi khusus juga, untuk anak tunanetra,” jelasnya.
Agar siswa ABK tidak minder ketika mengikuti belajar mengajar di kelas, Samini menambahkan, siswa reguler turut diberi pengertian dan pengetahuan soal ABK. Tujuannya, agar siswa reguler yang ikut pembelajaran di dalam kelas tidak menganggap remeh atau sampai timbul tindakan bullying terhadap siswa ABK.
“Setelah ada pembekalan, lalu kami bentuk tim. Untuk anak slow learning itu ada enam siswa pendamping secara sukarela, begitu dengan yang tunanetra. Hal itu berkelanjutan hingga siswa ABK itu bisa mandiri dan berani bersosialisasi,” pungkasnya. (hadi)












