Strategi itu dilakukan Cak Eri lantaran dia juga tak menginginkan Surabaya menjadi kota yang kapitalis. Oleh sebabnya, dalam setiap kunjungan di lapangan, dia selalu menekankan kepada warganya bahwa untuk membangun sebuah kota itu harus dengan gotong-royong kebersamaan.
“Ketika kota ini berhasil, maka yang berhasil adalah seluruhnya. Semua elemen masyarakatnya, baik itu masyarakat, pengusaha, tokoh agama termasuk Forkopimda dan wali kota,” ujar dia.
Menurutnya, gotong-royong merupakan bagian yang tak bisa terpisahkan ketika ingin membangun sebuah kota. Baik itu dalam membangun SDM warga, mengatasi pengangguran, bayi stunting, gizi buruk, serta memutus mata rantai kemiskinan.
“Karena itu seluruh aset pemkot kita gunakan untuk kepentingan umat. Apakah itu dengan kerja sama pihak ketiga yang bekerja orang Surabaya, atau orang Surabaya yang juga langsung bisa memanfaatkan tanah aset itu,” papar dia.
Wali Kota Eri Cahyadi memastikan, bahwa strategi yang telah dilakukan pemkot ini bertujuan agar bagaimana target untuk mengentas Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Surabaya bisa segera tercapai.
“Yang pasti bagaimana target kita orang yang di Surabaya masuk MBR itu bisa memiliki pekerjaan dan dia mendapat penghasilan Rp 4 juta per bulan,” pungkasnya. (hadi)



