“ Sejak bercerai Leni kos di daerah Surabaya Barat. Lalu kawin siri dengan pria lain. Sekarang punya dua anak. Sementara Hariyanto, mantan suami Leni tinggal di Bali. Kabarnya juga sudah beristri lagi,” papar Soeratmi.
Soeratmi menambahkan, baik Leni maupun Hariyanto tidak pernah memberi uang untuk ketiga putranya yang saat ini tinggal bersama Nenek Soeratmini.
Ditambah lagi mereka tidak bisa seterusnya menggantungkan hidup kepadanya yang semakin menua. Selain itu, Kehidupan ekonomi juga makin hari makin sulit.
“Uang pensiun saya Rp 3 juta harus dibayarkan Rp 2,5 juta setiap bulan ke Bank Mandiri,” terang Soeratmini. Dia harus membayar angsuran kredit ke bank sebesar Rp 150 juta.
“Saya pinjam bank untuk menutupi utang-utang saat suami sakit-sakitan dan akhirnya meninggal tahun 2012,” sambung wanita tua yang mulai terganggu pendengarannya ini. Almarhum suaminya bekerja sebagai sopir pribadi.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i yang menemui Soeratmi mengatakan nenek Soeratmini dan ketiga cucunya sering dibantu tetangga untuk bertahan hidup. Salah satunya Suryani, bendahara RT.
“ Saya mendengar nasib malang Nenek Soeratmini saat bertemu Ketua RW Pak Yono dan Ketua RT-nya Mas Dayat. Lalu saya menelepon sekaligus mengajak Mas Sugeng, Lurah Airlangga Kec Gubeng, dalam perjalanan dari Gedung DPRD Surabaya ke rumah Nenek Soeratmini. Pak Lurah langsung membatalkan acara lain yang sudah diagendakan, begitu mendengar kisah pilu kehidupan keluarga Nenek Soeratmini.” Kata Imam.
Imam juga mengatakan saat dirinya bertemu langsung dengan Soeratmini bersama kedua cucu di tempat tinggal mereka.












