Ia juga menjelaskan sistem pengelolaan sampah mandiri di wilayahnya. Menurutnya, di wilayahnya itu warga kompak melakukan pemilihan sampah rumah tangga, seperti botol plastik dan kardus-kardus. Lalu, petugas bank sampah mengumpulkan sampah-sampah yang sudah dipilah-pilah warga itu lalu dijual, sehingga setiap rumah warga itu kini punya buku tabungan sampah. “Dan itu sudah diterapkan di beberapa RW di wilayah kami, dan ini akan terus berkembang di hampir semua RW,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Jatim, Ratih Murwani yang menggantikan Kepala DLH Pemprov Jatim dalam acara itu mengapresiasi Kota Surabaya karena hampir setiap tahun pasti ada yang meraih penghargaan. Bahkan, beberapa kelurahan yang diusulkan oleh Pemkot Surabaya rata-rata sukses mendapatkan penghargaan.
“Surabaya itu konsisten masuk terus, sebagian besar Surabaya bagus lah. Dan di Surabaya itu pengelolaan sampahnya mengakar di masyarakatnya. Jadi sudah bagus dan tinggal membimbing terus. Jadi, kalau Surabaya itu saya pikir sudah bagus,” kata Ratih.
Dia menjelaskan, untuk total peserta sebenarnya ada 126 desa atau kelurahan. Setelah dilakukan penilaian, sebanyak 100 desa atau kelurahan yang diberi apresiasi atau penghargaan dalam tiga kategori, yaitu Pratama, Madya dan Mandiri.



