Dirinya mengakui, sengaja menunjuk perusahaan Kasyr Sibernetika untuk mengawal program penguatan literasi digital tersebut. Sebab, aspek pembinaan sebagai lokus utama program tersebut memerlukan sumber daya berkompeten menguasai lika-liku dunia digital yang sangat cepat perubahannya tersebut dan sarat unsur kreativitas.
Bukannya tanpa alasan, selain belum memiliki resource atau sumber daya aparatur yang memadai untuk mengawal program digitalisasi UMKM, pendampingan pada pelaku UMKM millenial sebagai segmen utama penguatan literasi digital tersebut memerlukan cara tersendiri.
“Upaya pembinaan terhadap UMKM, utamanya yang millenial tentulah akan jauh berbeda. Berbeda dari banyak sisi, dari mulai cara berkomunikasi, cara kerja hingga mindset-nya, saya pastikan beda,” kata Umi.
Anak muda, tidak terbiasa dengan model laporan cetak atau tertulis karena sudah terbiasa dengan form digital dan papperless. Di era internet of things ini, sambung Umi, anak muda millenial lebih menyukai bekerja tanpa terikat waktu dan menjalankan bisnisnya bisa dari mana saja seperti kafe atau co-working space, sepanjang itu menyenangkan.












