Selain akan lebih meriah, Disbudpar melakukan beberapa sentuhan baru agar acara yang rutin digelar tahunan ini tidak begitu-begitu saja. Tetapi menjadi lebih segar dan kekinian. Bila sebelumnya, Festival Rujak Uleg digelar dengan konsep masing-masing peserta berkostum unik menguleg rujak di meja berderet panjang yang telah disiapkan panitia, maka tahun ini akan dibuat improvisasi. Salah satu sentuhan baru itu adalah adanya panggung berbentuk bulat berdiameter 15 meter. Panggung ini nantinya akan berfungsi seperti cat walk alias tempat untuk memparadekan peserta dan kostum uniknya.
“Jadi panggung bulat ini untuk fashion show. Kalau dulu peserta pakai kostum unik, hanya tetangga (peserta) kanan kiri saja yang tahu, kali ini akan diparadekan sehingga semua bisa tahu,” sambung mantan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian ini.
Sementara Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya telah menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk acara Festival Rujak Uleg ini. Kabid Pengendalian dan Operasional Dishub, Subagio Utomo mengatakan, pengaturan lalu lintas di kawasan Kembang Jepun nantinya tidak akan berbeda dengan pengaturan ketika ada agenda Car Free Day (CFD) digelar di sana. Selama ini, CFD digelar di Kembang Jepun setiap minggu kedua. “Pengaturan lalu lintas nya akan seperti CFD,” ujarnya.
Mengacu pada gelaran tahun-tahun sebelumnya, Festival Rujak Uleg akan menyedot animo warga Surabaya dan luar Surabaya. Jalan Kya-Kya sepanjang 750 meter itu akan jadi “lautan manusia”. Karenanya, agar tidak ada penumpukan kendaraan yang diparkir di lokasi, Subagio mengimbau warga untuk parkir di JMP.



