Lebih lanjut dia menuturkan, dari pembincangan yang cukup sengit antara Lanang Setiawan dan Dwi Ery Santoso, lahirlah “Kur 267”. Landasan estetika menjadi pembahasan untuk memberi sebuah pertanggungjawaban. Lantas, apa makna sesungguhnya dari “Kur 267”?
“Kata “Kur” secara etimologi berasal dari bahasa Tegalan. Kata pendek ini berarti hanya, cuma, atau satu-satunya. Dalam bahasa Tegalan, kata “kur” memiliki padanan kata dengan “mung” dan “gel”. Sementara kata “Kur” ini dimaknai sebagai puisi pendek bahasa Tegalan untuk menggantikan kata haiki dalam tradisi sasra di Jepang. Puisi pendek genre baru dalam Puisi Tegalan yang dinamai “Kur 267” terdiri dari 3 larik atau baris,” tandasnya.
Sementara itu Lanang Setiawan menjelaskan, cara tuang untuk membuat “Kur 267”, pada larik pertama, terdiri atas dua suku kata, larik kedua terdiri atas enam suku kata, dan larik ketiga terdiri dari tujuh suku kata “Penamaan 267 (loro-nem-pitu) memang berasal dari jumlah suku kata untuk setiap larik dalam karya sastra “Kur”…” terang Lanang.












