Terkait datangnya musim hujan itu, Eddy juga berpesan kepada seluruh masyarakat Surabaya agar rutin melakukan pengecekan genangan air. Sebab, ketika terjadi genangan air, maka potensi datangnya penyakit itu cukup tinggi. Seperti, gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang dapat menyebabkan Demam Berdarah Dengue (DBD). “Tolong dicek semuanya, ketika musim hujan ada penampungan-penampungan itu jangan sampai ada genangan,” tegasnya.
Kendati demikian, dalam menghadapi anomali cuaca ini, BPB dan Linmas Surabaya juga rutin melakukan pengecekan peralatan, seperti perahu karet. Tak hanya itu, bahkan jajaran BPB Linmas, Satpol PP dan Damkar juga rutin menggelar latihan. “Karena itu kita juga rutin menggelar latihan untuk persiapan datangnya potensi bencana,” terangnya.
Untuk mendukung kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana tersebut, Pemkot Surabaya telah menyiapkan delapan posko terpadu dengan 35 pos pantau yang tersebar di beberapa wilayah Kota Surabaya. Menurut Eddy, posko terpadu tersebut sebagai langkah cepat untuk mengantisipasi ketika terjadi kejadian-kejadian yang tak diharapkan. “Dari jajaran Kasatgas Linmas kelurahan, PMK dan Satpol PP juga kita siapkan dalam rangka menghadapi musim penghujan ini,” jelasnya.
Namun, menurut dia, yang paling penting diwaspadai oleh masyarakat adalah datangnya angin kencang. Apalagi, saat ini datangnya angin tidak seperti dahulu. Jika empat tahun yang lalu, angin bergerak dari barat ke timur, namun sekarang tidak bisa diprediksi. “Kita tidak bisa prediksi arah angin ini, namun ketika ada awan hitam (Cumulonimbus) itu dimana pun kita harus hati-hati,” pesannya.



