Pakde Karwo mengatakan, dengan konsep baru tersebut, maka kerjasama di bidang pendidikan vokasional tidak hanya difokuskan pada persoalan “mendidik”, bukan hanya meningkatkan standarisasi pendidikan vokasional di Jatim dengan standar RRT. Tapi juga memunculkan industri kecil baru berkualitas internasional. Dengan begitu, perekonomian Jatim akan lebih meningkat lagi seiring dengan bertumbuhnya UMKM yang jadi penopang utama perekonomian Jatim.
“Ini konsep dan cara baru kerjasama pendidikan vokasional plus industri pasca panen. Tidak hanya mendidik, tapi juga ada loan untuk membuat produksi. Misalnya, RRT butuh apa? Nanti kita bangun pabrik khusus untuk memproduksi kebutuhan itu menggunakan dana kerjasama pembiayaan, kemudian SDM-nya adalah lulusan dari kerjasama pendidikan vokasional ini” jelasnya.
Masih menurut Pakde, konsep tersebut sudah seharusnya diterapkan di pasar bebas. “Cina ada kelebihan uang tapi tidak produktif, jika tidak disalurkan akan menjadi beban negara. Karena itu harus di loan untuk kredit di daerah, jika loan untuk membangun infrastruktur tidak akan produktif. Maka kerjasama pendidikan vokasional dengan konsep ini akan memunculkan industri kecil baru. Konsep seperti inilah yang harus ada di pasar bebas” lanjutnya.
Tawaran itu disambut baik oleh Konjen RRT di Surabaya yang baru, Gu Jingqi. Menurutnya, konsep itu sangat cerdas dan tepat karena RRT adalah negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia. Selain itu, RRT juga sangat mendukung pembangunan pendidikan vokasional.



