Lanang mengisahkan tentang kegigihannya terhadap dunia sastra dan pengabdiaannya pada dunia kewartawannanya hingga perjuangannya mendirikan tabloid Tegal Tegal. Pembaca kembali disuguhkan tentang percintaan dirinya secara dewasan. Hal demikian tertuang pada bagian “Kasmaran”.
Sementara itu pada bagian “Tegal Sumbu Pendek”, kita bisa melihat bagaimana Lanang menjadi saksi sekaligus pelaku yang melawan penguasa lalim saat di kotanya di tahun 2015 terjadi aksi demo ASN melawan walikota. Sedang pada bagian “Taman Gentong”,
Lanang kembali mengobarkan panji-panji sastra Tegalan ke seluruh lapisan seniman dengan mengadakan event seni serba tegalan. Sebagai penutup bukunya, yakni pada bagian “Pungkasan”, ia berkisah tentang bagaimana dirinya menyuntuki sastra tegalan hingga seperempat abad.



