“Intinya kami mempertemukan langsung konsumen dengan petani konvensional di Surabaya. Tentunya produk yang dijual masih segar dan harganya tejangkau karena belum masuk ke tengkulak. Adapun yang menjadi sasaran kami adalah warga yang setiap Minggu pagi berolahraga di Taman Surya, juga warga Surabaya dan sekitarnya,” ujar Satrio.
Satrio menjelaskan, dalam dua penyelenggaraan Gelar Produk Pertanian di Taman Surya, respon masyarakat sangat bagus. Itu terlihat dari adanya peningkatan omset perputaran selama gelaran produk pertanian. Menurut Satrio, untuk kegiatan pertama pada 12 Juli, omset per putaran mencapai 18 juta rupiah dengan produk samiler “Samijaya” dan telur asin dari warga terdampak penutupan lokalisasi di Putat Jaya menjadi ‘bintangnya’. Lalu pada gelaran kedua, jumlah itu mengalami peningkatan cukup signifikan menjadi 22 juta rupiah dengan komunitas hidroponik Surabaya menjadi “penjual terbaik” nya.
“Untuk Minggu besok, potensi kenaikan omset sangat mungkin karena memang jumlah pesertanya semakin banyak. Bila pada acara pertama diikuti 30 peserta, lalu naik jadi 35 peserta, kini jadi 48 peserta,”sambung Satrio.
Kasie Tanaman Pangan dan Holtikultura Distan Surabaya, Bagas Swadaya Aji menambahkan, Distan selalu melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan gelar produk pertanian tersebut. Semisal bila ada kelompok tani yang masih memerlukan pelatihan dalam hal pengemasan produk agar lebih memenuhi selera pasar. “Kami punya harapan besar agar mereka bisa bersaing di ekonomi global,” ujarnya.
Bagas menyebut, Distan juga berharap agar peserta Gelar Produk Pertanian tersebut, jumlahnya akan semakin bertambah dan merata di setiap kecamatan. Untuk kali ini, kelompok tani dan nelayan baru berasal dari 23 kecamatan di Surabaya, termasuk wilayah terdampak penutupan lokalisasi yang telah dibina Distan Kota Surabaya.












