“Kebanyakan iritasi mata karena debu. Kemudian diare, disebabkan angin atau tempatnya yang berbeda dengan sebelumnya,” papar Meita.
Masih Mieta, untuk hewan kurban yang dijual di Surabaya rata-rata berasal dari sejumlah kota di Jawa Timur, diantaranya dari Probolinggo, Malang, Lamongan, dan Gresik.
Kabid Peternakan ini menyampaikan, bahwa untuk menjaga kebersihan, pihaknya telah melakukan sosialisasi ke para pedagang mengenai lokasi-lokasi yang tak diperkenankan sebagai area penjualan, yakni di fasilitas umum serta di dekat daerah aliran sungai (DAS).
“Tiap tahun kita sampaikan ini, “ ungkapnya
Selama ini, menurutnya, para pedagang mengikuti ketentuan yang ada. Hanya saja, tempat penjualan kadang berubah dari tahun yang lalu.
“Gak bisa terus di situ, soalnya oleh pemilik tanah kan bisa sudah dimanfaatkan untuk yang lain,” paparnya.(hdi/cn02)



