Jembatan timbang daring atau JTO ini akan mengandung beberapa unsur, yaitu Traffic Counting, untuk menghitung jumlah kendaraan keluar dan masuk; Sensor Dimensi, untuk mengukur dimensi truk dan Truck detector, untuk mengetahui isi muatan truk
“Jadi dengan traffic counting kamiakan melakukan penghitungan berapa kendaraan masuk dan tidak masuk. Kalau truk tidak masuk dan ada potensi pelanggaran saya sudah koordinasi dengan Kepolisian. Menempatkan petugas pada mulut-mulut jalan sebelum JT terutama pada malam hari dirasa berbahaya, jadi menggunakan sensor ini akan otomatis mencatat kendaraan yang masuk beserta nomor polisinya dan diserahkan pada polisi,”kata Budi.
Selain itu, juga akan dipasang alat pencatatan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) pada akses jalan dari menuju 18 jembatan timbang yang berfungsi untuk pendataan angkutan barang yang masuk dan tidak masuk jembatan timbang melalui pengambilan gambar nomor registrasi kendaraan oleh kamera secara langsung.
Data tersebut akan terintegrasi dengan data-data yang ada di jembatan timbang daring.
Untuk angkutan barang yang tidak melakukan penimbangan (tidak masuk ke dalam jembatan timbang), integrasi data tersebut akan langsung terkirim kepada Kepolisian terdekat untuk proses penegakan hukum.
Sementara itu dengan sensor dimensi yang ada, menurut Budi, akan mempermudah petugas di lapangan serta hasilnya lebih akurat.












