Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim Kohar Hasi Santoso mengatakan, meski masih banyak penderita, namun peningkatannya mulai melandai. Pada 27 Juni lalu misalnya, jumlah penderita 824 orang, kemudian 29 Juni naik menjadi 924 orang. Ada kenaikan hingga 100 orang. Namun, pada 1 Juli lalu berjumlah 975 orang. “Artinya peningkatannya mulai melandai. Mudah-mudahan betul di lapangan jumlah orang yang sakit hepatitis A di Pacitan tidak semakin bertambah,” katanya.
Kohar mengaku, saat ini pihaknya terus menakan angka penularan hepatitis A. Yakni dengan menginstruksikan melakukan penelitian epidemologi. Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. “Bagaimana cara mereka buang air besar, cuci tangan, air minumnya. Kemudian bagaimana makanan tidak terkontaminasi dan masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,” katanya.
Dinkes Jawa Timur menargetkan, upaya ini akan membuahkan hasil dengan menekan angka penularan hepatitis A dalam waktu dua minggu bisa turun. Kohar pun berusaha maksimal untuk menyembuhkan pasien yang telah tertular.
Seperti diketahui, wabah Hepatitis A di Pacitan mulai merebak sejak Ramadan lalu. Dugaannya, penularan ini terjadi melalui buah-buahan yang diduga terkontaminasi penderita. “Bulan puasa kita biasa memakan segar-segar macamnya blewah dan sebagainya. Rupanya, ada yang terkontaminasi. Setelah itu menyebar,” katanya. (wan/jnr/Pca/p)



