Menurutnya, industri 4.0 dalam pengembangan pariwisata bisa dilakukan melalui dua cara, yakni dengan virtual dan augmented reality. Hal ini lebih menarik dibandingkan dengan promosi pariwisata menggunakan brosur.
Promosi pariwisata bisa dilengkapi dengan kacamata virtual reality. Dengan cara tersebut, diharapkan seseorang bisa tetap ada di tempatnya, tetapi secara 360 derajat seakan-akan bisa melihat tempat wisata yang diharapkan.
“Kita ingin dorong virtual reality untuk promosi wisata. Promosi wisata kabupaten/kota harusnya ada booth yang memiliki virtual reality. Inilah yang kita dorong. Siapa yang bisa membuat virtual reality ya anak-anak muda ini. Sekarang sudah banyak dijual kamera 360,” jelas Emil melalui siaran pers Humas Setdaprov Jatim.
Karena itu, pihaknya ingin memberikan kesempatan bagi anak muda untuk mendapatkan pengalaman kerja membuat virtual reality, video atau application yang bisa mendorong pariwisata. Apalagi Jatim memiliki potensi pariwisata yang sangat luar biasa.
Mengenai augmented reality, Emil Dardak menjelaskan, bahwa penerapannya seperti permainan Pokemon Go. Pada tempat wisata tersebut bisa dibuat augmented reality melalui permainan pada smartphone untuk anak-anak maupun orang dewasa. Sebagai contoh, ada permainan yang digunakan untuk menemukan beberapa items pada tempat wisata. Jika berhasil ditemukan semua, wisatawan yang melakukan permainan itu bisa mendapatkan voucher.



