Sebagian lagi dikirim ke sejumlah pelanggan yang telah menjalin kerja sama dengan TK Creative.
Selain itu juga melalui “reseller” yang ada di luar provinsi.
“Jadi kita sediakan bahan (bambu), mereka yang menganyam. Yang nantinya kita terima hasil karyanya, dan kami ganti dengan upah. Dan hasil kerajinan mereka sudah siap bersaing di pasaran,” katanya.
Omzet kerajinan bambu yang bisa terkumpul dari wali murid setiap bulannya berfluktuasi di kisaran Rp10 juta.
Uang hasil penjualan besek cantik kreasi wali murid selanjutnya digunakan untuk operasional penyelenggaraan pendidikan di TK Creative, seperti membayar honor pendidik, listrik, kebersihan dan sebagainya yang total sebulan rata-rata mencapai Rp2,5 jutaan,” ujarnya.
Nining Warianti salah satu orang tua wali murid TK Creative mengatakan, kegiatan ini sangat membantu orang tua murid terlebih terhadap pembayaran SPP..
Dengan metode alat bayar alternatif itu, wali murid tidak perlu lagi mengeluarkan uang cash ke pihak sekolah. Cukup dengan menganyam bambu lalu disetorkan ke pihak sekolah.












