“Dibanding pemilu periode lima tahun lalu, untuk tahun ini saya melihat ada ledakan dari pemilih pemula. Meski jumlahnya masih berproses hingga hari H nanti, namun riuhnya pemilu terlihat di media sosial yang memang menjadi ‘mainan’ anak-anak milenial,” ujarnya kepada media ini.
Pemilih milenial, dikatakan pria berkacamata ini, hanya akan tertarik apabila ada program yang menyangkut dengan komunitasnya, komunitas anak muda. Disinilah tantangan bagi kontestan pemilu untuk dapat menjaring suara dari kalangan milenial.
“Ketika program kontestan pemilu ‘terintip’ anak-anak milenial bersinggungan dengan mereka, maka akan ada apresiasi dari mereka. Misalnya program terkait start up atau adanya co working space untuk menyalurkan hobi. Hal-hal seperti inilah yang cukup diminati anak-anak milenial,” paparnya.












