Sementara itu, kolumnis The Sydney Morning Herald, James Massola, menulis bahwa pembebasan BTP mengingatkan kembali kepada beberapa “tindakan hukum yang menyasar pelaku penistaan agama di Indonesia”.
Massola mengutip pendapat Dr Melissa Crouch, seorang ahli Indonesia di University of NSW, yang mengatakan bahwa hukum penistaan agama telah “dipersenjatai” dalam beberapa tahun terakhir, yang disebutnya sebagai ‘efek Ahok’.
Ini adalah penggunaan hukum penistaan agama untuk menargetkan lawan politik.
Menurut Dr Crouch, pembebasan BTP adalah pengingat apa yang mungkin terjadi ketika minoritas melawan mayoritas. Dia pernah menjadi pendamping Jokowi sebagai calon dan wakil gubernur.
“Jika semuanya dulu berjalan dengan baik, dia bisa menjadi wakil presiden. Namun, ada penghambat yang terlewatkan, bahwa dia adalah keturunan Kristen Tionghoa,” kata Dr Crouch.
Situs web The New York Times juga turut mengabarkan tentang pembebasan BTP, yang dirilis pada Rabu 23 Januari.
Artikel itu lebih banyak memuat tentang kilas balik terhadap kasus penistaan agama yang menyeret BTP ke balik jeruji besi.












