Menurutnya populasi di Indonesia terus meningkat, kemudian permukiman terus berkembang dan semakin padat. Namun peningkatan populasi itu tidak diimbangi dengan penyediaan akses sanitasi layak pada permukiman tersebut dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi menyebabkan kualitas sanitasi di Indonesia semakin tertinggal dari negara lain.
“Saat ini Indonesia menempati peringkat sanitasi terburuk ke-2 di dunia setelah India. Akhir-akhir ini sedang tren kasus stunting yang terus meningkat di berbagai daerah, tidak terkecuali di Kota Probolinggo,” katanya.
Ia menjelaskan salah satu penyebab stunting adalah sanitasi yang kurang baik, dimana bakteri dari air tinja mengkontaminasi air minum/makanan penduduk. Kini pemerintah pusat merancang Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) skala permukiman atau yang sering disebut IPAL Komunal.
“Pembangunan IPAL Komunal itu menggunakan sistem sanitasi berbasis masyarakat yakni direncanakan, dilaksanakan dan diawasi sendiri oleh masyarakat. Harapannya, masyarakat memiliki kepedulian untuk merawat IPAL Komunal yang terbangun,” ujarnya.



