Meskipun demikian, Tri menilai sistem mobil hybrid lebih cocok diterapkan di Indonesia daripada kendaraan dengan sumber energi listrik penuh. “Kita tidak bisa memungkiri, bahwa Indonesia masih memerlukan peningkatan fasilitas pendukung untuk kendaraan listrik,” sambungnya.
Ditanya mengenai pengaruh pengujian mobil ini terhadap riset kendaraan listrik ITS, Tri mengaku banyak teknologi yang bisa dipelajari lewat pengujian mobil ini oleh ITS. Ia memberi contoh, dua mobil hybrid Toyota ini sudah dapat menerapkan artificial intelegence (AI) dalam sistemnya. “Walaupun kami masih mengembangkan sistem hybrid, namun pengujian ini akan membantu meningkatkan riset kendaraan listrik kami nantinya,” pungkasnya. (wan/h.it)












