Kesimpulannya, lanjut dia, toleransi agama itu dapat berkembang dalam diri mahasiswa maka pendidikan toleransi perlu diperkenalkan sejak dini di keluarga dan dikuatkan di level pendidikan formal secara berjenjang terutama di level universitas.
“Hal yang menarik dari penelitian ini adalah walaupun toleransi beragama mahasiswa di tiga perguruan negeri ini cukup tinggi tetapi aspek toleransi politiknya menunjukkan data yang berbeda,” katanya.
Untuk toleransi politik yang dalam tahap mengkhawatirkan ini, kata Yon, nampaknya perlu penguatan pemahaman tentang demokrasi di kalangan mahasiswa. Tentu yang dimaksud demokrasi di sini adalah bukan demokrasi liberal tetapi demokrasi Pancasila yang sesuai dengan budaya Indonesia.
“Saya yakin kecenderungan toleransi politik di bawah rata-rata ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa tetapi juga terjadi di tingkat elite. Namun ini perlu penelitian baru yang lebih mendalam,” kata Yon Machmudi.
Yon menambahkan, penelitian ini telah melalui uji kevalidan yang tinggi karena instrumen yang digunakan telah diuji melalui uji pakar (expert judgment) dari beberapa ahli di bidang psikologi, kajian Islam maupun statitistik.
Beberapa ahli yang telah memberikan masukan dalam penelitian ini adalah Gagan Hartana (ahli statistik) Mayke S Tedjasaputra (psikolog) dan Dr Sri Mulyati (ahli agama). Kuesioner yang digunakan merupakan modifikasi dari model Socio-Religious Tolerance Questionnaire (Talib, 2009).(rur)












