Ada sekitar 1004 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi yang berpatisipasi dalam survei ini yaitu dua PTN umum dan satu PTN berbasis agama. Namun setelah dilakukan cek validitas dinyatakan ada 799 responden yang dinyatakan valid datanya.
Profil dari responden adalah 97 persen muslim dan 3 persen non muslim serta 80 persen pernah mengikuti kegiatan keagamaan di kampus.
Yon Machmudi yang juga Ketua Prodi Kajian Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI ini menambahkan, hasil penelitian lainnya adalah mahasiswa dengan pola asuh otoritarian di mana kedua orang tua cenderung keras dan tidak memberikan kesempatan anaknya untuk memilih maupun berbeda, menunjukkan hasil tingkat toleransi yang rendah.
Dari sekitar 175 mahasiswa yang berasal dari tipe pengasuhan ini sebanyak 115 (65 persen) responden memiliki toleransi beragama di bawah rata-rata.
Sementara pola pengasuhan otoritatif atau demokratis di mana orang tua memberikan arahan dan tanggung jawab kepada anak-anaknya menunjukkan sebagian besar dari mahasiswa memiliki tingkat toleransi beragama tinggi.
“Hasil penelitian ini penting untuk disampaikan bahwa sikap tidak toleran maupun toleran itu tidak muncul begitu saja, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua terutama sejak masa anak-anak maupun awal dewasa. Pendidikan agama baik formal maupun informal perlu ditingkatkan agar dapat berpengaruh positif dalam menumbuhkan toleransi di perguruan tinggi,” katanya.












