Yang paling terpukul bisa jadi orang tua Erikawati, Sahluki (41) dan istrinya, Liana (37). Dari rumah di Kalimas Baru, keluarga kecil itu berangkat ke Tugu Pahlawan untuk menonton drama Surabaya Membara. Sampai di lokasi, mereka mencari tempat yang tinggi agar bisa menyaksikan drama dari atas. Mereka bergabung dengan puluhan penonton lainnya di viaduk.
Sekira pukul 19.45 WIB, kereta jurusan Sidoarjo-Bojonegoro terlihat mendekat melaju pelan-pelan akan melintasi viaduk. Sama seperti penonton, Sahluki mengarahkan istri dan putrinya duduk di tepian viaduk agar tak terserempet badan kereta. Erikawati dirangkul dan didudukkan di tengah antara Sahluki dan Liana.
Saat kereta api lewat, penonton di viaduk berdesakan, berebut posisi agar tak terserempet badan si ular besi. Tiba-tiba kepanikan melanda. Sahluki dan istrinya terdorong hingga jatuh, sementara anaknya terlepas dari rangkulan.
“Saya dan ibunya (sang istri) jatuh, anak saya terserempet (kereta api),” cerita Sahluki kepada wartawan di RSUD dr Soetomo.
Sekira pukul 00.48 WIB, keluarga membawa jenazah Erikawati untuk dimakamkan di rumah kakeknya di Bangkalan, Madura.
Cerita sedih juga tergambar dari keluarga korban meninggal dunia, Helmi Suryawijaya. Dia adalah korban tewas terlindas kereta api saat menonton drama Surabaya Membara di viaduk. Awalnya, tidak ada yang mengetahui identitas korban. Tidak ditemukan kartu identitas apa pun di pakaian maupun di dekat korban. Dia dibawa ke rumah sakit dengan label Mr X.












