Sebagai bentuk implementasinya lanjut Waryono Hipani akan rutin menggelar kegiatan ilmiah baik berupa Seminar maupun Workshop demi wujudkan perawat yang kompeten, berkarakter, dan profesional. Tentu yang untuk memberikan pemahaman yang seragam mengenai kredensialing perawatan anestesi, penetapan jenjang klinik yang sebenarnya di lingkup perawatan anestesi, memajukan ilmu dibidang anestesi dan upaya mengupgrade ilmu keperawatan.
” Pelatihan kali ini merupakan angkatan pertama ditahun 2018, ditahun depannya angkatan ke 2 dan ketiga nantiya juga akan diselenggarakan di Surabaya. Kenapa Surabaya, selain jumlah perawat Anastesinya yang banyak, para pakar dibidang Anastesi pun banyak dikota ini.” tuturnya
Waryono berpesan, inilah yang membedakan Hipani dengan IPAI yang telah membuat banyak perawat anastesi kebingungan. Bahwa Hipani akan senantiasa up grade pengetahuan dan melakukan sertifikasi perawat anastesi. “Kita berharap dengan hal ini semua, perawat anestesi dimanapun berada dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi diri sesuai dengan regulasi yang ada serta tahu dimana ia harus bernaung untuk menentukan jenjang karirnya.”ujarnya
Sebelumnya Kepala dinas Kesehatan Jawa Timur Dr. dr Kohar Hari Santoso. Sp.An. KIC. KAP, yang ikut membuka Pelatihan yang berlangsung selama lima hari ini, mengatakan bahwa Anastesiologi tidak bisa berdiri sendiri, ada team yang harus bisa bekerja bersama.
Oleh karena itu, Soal polemik ini memang menjadi hal yang cukup membingungkan, khususnya perawat anastesi. Namun ia berharap jangan sampai hal inimengakibatkan pelayanan anastesi menjadi terangangu. ” Di Rumah Sakit ada Komite keperawatan, soal pembinaan etik dan disiplin tenaga keperawatan, serta menjamin mutu pelayanan kesehatan dan melindungi keselamatan pasien, komite keparawatan tentunya akan sangat berperan dalam hal ini.” pungkasnya. (wan)
Perawat Anastesi Lulus Pelatihan diatas 2013, Otomatis Gabung di HIPANI












