“Ke depan jenis ini akan didorong dorong produksi maupun produktivitasnya. Selain untuk konsumsi, juga dijadikan bakal benih untuk musim tanam berikutnya,” jelas Prihasto. “Kita terus kejar produksi benih unggul lokal, karena saat benih kurang dan permintaan tinggi seperti sekarang ini rawan peredaran benih palsu atau oplosan sehingga perlu pengawasan yang intensif terhadap peredaran benih. Kementerian Pertanian tak henti-hentinya mengingatkan semua pihak untuk waspada,” tambahnya serius. Harga bawang putih TMB kering konsumsi terpantau di kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 40ribu. Sementara harga konde basah di tingkat petani saat ini Rp 20 ribu per kilogram. Bawang jenis ini banyak diminati para pelaku usaha kuliner. Pemasarannya baru menjangkau wilayah Solo Raya dan sekitarnya. Suratno, ketua kelompoktani Galang Mitra Sejahtera menyebut produktivitas jenis TMB yang ditanam di Kalisoro bisa mencapai 15 hingga 20 ton per hektar panen basah. “Petani disini sudah puluhan tahun menanam bawang putih tumpangsari dengan sayuran lain seperti wortel, bawang daun dan kobis. Untuk hasil optimal, akhir April kami harus sudah tanam bawang putih. Paling lambat Juni tanam, kalau lewat bulan tersebut hasilnya kurang bagus,” ujar Suratno.
Saat ditanya kunci sukses budidaya bawang putih, Suratno menyebut faktor benih, pupuk dan air. “Petani disini sudah fanatik maunya tanam benih Tawangmangu Baru. Kami pakai jarak tanam 15×15 cm. Pupuk yang kami pakai yaitu pupuk kandang 10 ton per hektar, Pupuk Organik 1,6 ton per hektar dan NPK 300 kg per hektar dengan cara dilarutkan ke air lalu di berikan ke tanaman dengan cara dikocor”, beber Ratno. “Air tersedia melimpah disini, kalau musim kemarau tinggal pakai sprinkle. Justru kalau ditanam di musim hujan hasilnya jelek,” tukasnya.
“Petani kami siap mendukung program swasembada pemerintah. Kami harap dukungan pemerintah mencetak penangkar-penangkar benih baru, agar nantinya ketersediaan benih TMB bersertifikat bisa meningkat,” pungkas Suratno. (Tan/jpp)












