“Rata-rata permasalahan yang paling banyak adalah siswa kelas 1 tidak bisa naik kelas karena bisa membaca namun tidak memahami apa yang dibacanya. Padahal beban pelajaran di kelas 2 menuntut siswa untuk bisa membaca dan memahami bacaan. Sehingga akhirnya guru memutuskan siswa tersebut harus mengulang kelas 1 lagi,” terangnya.
Sedangkan permasalahan terbesar yang dialami oleh Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Probolinggo adalah banyak guru Pendidikan Agama Islam yang terpaksa menjadi guru kelas dan harus mengajar Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, dan pelajaran lainnya, karena kurangnya guru mata pelajaran. Hal ini dijelaskan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Santoso.
Paparan yang disampaikan oleh Anna Maria Sekretaris Bappeda Kabupaten Probolinggo juga tak kalah mengejutkan. Dari 338.488 anak putus sekolah di Jawa Timur pada 2017, sebanyak 24.697 anak berada di Kabupaten Probolinggo. Bahkan Kabupaten Probolinggo menempati urutan dua tertinggi setelah Kabupaten Jember.
“Hal ini menjadi pe-er bagi kita semua dan saya berharap Program INOVASI hadir di Kabupaten Probolinggo dapat membantu kami mengatasi permasalahan ini,” ungkapnya.
Achmad Arif Pelaksana Tugas Asisten Administrasi Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Pemkab Probolinggo menyambut gembira kegiatan Perencanaan Program INOVASI dengan Kabupaten Probolinggo yang diinisiasi bersama antara Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dengan pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Kabupaten Probolinggo.
“Saya menyambut baik kegiatan ini dan mohon agar seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan sampai selesai. Karena saya berharap besar pada kegiatan ini dapat memetakan permasalahan pendidikan yang ada di Kabupaten Probolinggo. Dan secara bersama-sama mencari solusi untuk mengatasi permasalahan pendidikan,” terangnya.












