Menurut Cahyo, persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar layanan kesehatan lebih mudah dijangkau masyarakat, terutama warga yang kesulitan bepergian sendiri.
Ia menilai, program Pemkot Surabaya 1 Nakes 1 RW berpotensi dikembangkan untuk membantu menjembatani kebutuhan warga dengan fasilitas kesehatan.
Ia berharap program tersebut tidak hanya berfokus pada observasi kesehatan serta upaya promotif dan preventif di lingkungan permukiman, tetapi juga dapat membantu mengidentifikasi warga yang membutuhkan layanan lanjutan dan mempermudah koordinasi dengan fasilitas kesehatan.
“Harapan kami, program 1 Nakes 1 RW ini tidak hanya menjadi gerakan observasi kesehatan atau promotif preventif kesehatan ke kampung, tetapi bisa menjadi bagian dari kepanjangan tangan fasilitas kesehatan tingkat pertama,” katanya.
Cahyo menegaskan, gagasan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan regulasi dan kewenangan tenaga kesehatan.
Namun, ia berharap pemerintah kota dapat mencari mekanisme yang memungkinkan warga dengan keterbatasan fisik memperoleh akses pelayanan yang lebih mudah tanpa menghadapi hambatan administratif maupun mobilitas yang tidak perlu.





