“Kota Surabaya ini milik para pemuda. Mereka tidak boleh berhenti dan tidak boleh hanya menjadi penonton. Karena itu, kami tidak hanya melibatkan mereka dalam pembangunan atau Musrenbang Pemuda, tetapi juga memberikan anggaran agar para pemuda bisa bergerak,” kata Eri.
Dukungan tersebut diharapkan membuat anak muda lebih leluasa mengembangkan inisiatif di lingkungan masing-masing.
Sejumlah kegiatan mulai tumbuh melalui Karang Taruna dan aktivitas di balai RW.
Bentuknya beragam, mulai dari usaha penyediaan telur, penjualan parfum dan deodoran, hingga pemutaran film dengan konsep layar tancap atau misbar (gerimis bubar).
Kegiatan ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produknya.
Menurut Eri, ruang partisipasi dan dukungan anggaran perlu berjalan beriringan.







