Karena itu, Eri meminta masyarakat tidak serta-merta menyalahkan pengemudi ketika melihat situasi yang tampak tidak ideal.
Namun, ia menegaskan tindakan ugal-ugalan tetap tidak dapat dibenarkan.
“Nah itu langsung kemudian sama penumpang, sama netizen itu langsung disalahkan. Jadi, driver dan helpernya juga berharap situasi lapangan ini dipahami kecuali yang memang ugal-ugalan di tengah, ugal-ugalan itu memang salah. Tapi yang beberapa konteks status itu, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan driver,” papar Eri.
Ia menambahkan, persoalan yang muncul dalam operasional WiraWiri sangat beragam dan sebagian bersifat kasuistis.
Termasuk kasus penumpang yang sempat viral karena dilarang menaiki Wira-Wiri akibat persoalan bau badan.
“Ada juga yang sempat viral itu, dilarang masuk menaiki WiraWiri karena permasalahan bau badan. Itu viral kapan-kapan itu, sampai laporan ke Dishub, kan memang itu mengganggu penumpang lain. Nah tapi dia tersinggung, akhirnya cekcok,” jelasnya.
“Nah kayak gitu, itu permasalahan-permasalahan lapangan yang memang sangat kasuistis,” imbuhnya.
Dengan penambahan armada, rencana pengembangan rute, hingga penguatan pengawasan pengemudi, DPRD Surabaya berharap peningkatan layanan WiraWiri tidak hanya mengejar jumlah armada, tetapi juga menghadirkan transportasi publik yang lebih aman, nyaman, dan terintegrasi bagi warga. (*)





