Menurutnya, pembinaan yang kuat harus dimulai dari lingkungan pendidikan, kemudian terhubung dengan sistem pembinaan yang dikelola organisasi cabor.
Dengan demikian, potensi atlet yang ditemukan di sekolah memiliki peluang untuk dikembangkan melalui latihan terarah dan kompetisi yang berkesinambungan.
Penguatan kompetensi pelatih juga berkaitan dengan kualitas proses pembinaan.
Pelatih tidak hanya berperan meningkatkan kemampuan teknis atlet, tetapi turut mendampingi pembentukan karakter, disiplin, dan sportivitas.
Aspek kebugaran fisik serta pemahaman mengenai kebutuhan gizi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan atlet usia dini.
Bagi Cahyo, penguatan sumber daya manusia tersebut perlu berjalan beriringan dengan pembenahan tata kelola organisasi cabor.
Organisasi olahraga memiliki peran dalam mengelola program latihan, menyediakan kesempatan bertanding, serta membangun jalur pembinaan yang terstruktur.
Tanpa dukungan sistem yang berkesinambungan, proses pencarian bakat berisiko tidak berlanjut ke tahap pengembangan prestasi.
Karena itu, keterhubungan antara sekolah, pelatih, organisasi cabor, fasilitas latihan, dan penyelenggara kompetisi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem olahraga yang mandiri.
Cahyo juga menempatkan sinergi kelembagaan sebagai faktor penting dalam mendukung keberlanjutan pembinaan.
“DPRD, melalui fungsi dan kewenangannya, bersama pemerintah daerah perlu mendorong kebijakan yang mendukung pengembangan sumber daya manusia, fasilitas, serta kesempatan berkompetisi bagi atlet,” terangnya.



