Daniel menjelaskan, demonstrasi tersebut merupakan gerakan kolektif yang tidak membawa nama satu kampus atau kelompok tertentu.
Aksi itu juga melibatkan berbagai elemen masyarakat sipil yang memiliki keresahan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Ia menilai, identitas almamater tidak seharusnya menjadi batas yang memisahkan mahasiswa dari kelompok masyarakat lainnya.
Sebaliknya, aksi tersebut menjadi ruang untuk menyatukan aspirasi lintas kelompok.
“Ini aksi kolektif bersama. Dan tidak cuma mahasiswa. Dari rakyat sipil juga ada, dari buruh, dari pedagang, dari serikat pekerja, itu juga semuanya ada,” ujarnya.




