“Penggunaan tabir surya secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan sel kulit,” tegasnya mengingatkan lagi.
Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat cuaca panas ekstrem, masyarakat juga dianjurkan memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi.
Edwin menyarankan konsumsi air minimal 1,5 liter setiap hari.
Kebersihan tubuh juga tidak boleh diabaikan.
Masyarakat dianjurkan mandi dua kali sehari serta segera mengganti pakaian yang lembap untuk mengurangi risiko munculnya infeksi jamur akibat kondisi panas dan berkeringat.
“Dengan menerapkan pola hidup bersih dan terlindungi, risiko kesehatan akibat heatwave dapat ditekan,” tuturnya.
Para pakar ITS mendorong masyarakat lebih adaptif menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang berkaitan dengan perubahan iklim.
Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan, terutama ketika suhu lingkungan meningkat secara signifikan.
Peningkatan kewaspadaan terhadap dampak gelombang panas tersebut juga sejalan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta tujuan ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim. (*)







