Dari berbagai kemungkinan, konsep Uno kemudian dipilih dan dikembangkan dengan membawa isu inklusivitas.
“Kita pas itu diskusi bareng gitu, mau bikin game apa. Nah, akhirnya gimana kalau bikin Uno aja. Tapi Uno-nya digabungin dengan color blind awareness ini, gitu,” urainya.
Sebelum dikembangkan lebih jauh, Yucca Card juga telah melewati proses trial and error dengan melibatkan sekitar 10 orang.
Meski belum dilakukan pengujian langsung secara luas kepada penyandang buta warna, tim telah mendapatkan respons awal yang cukup positif dari para pemain.
“Sejauh ini belum ada, tetapi karena ini baru dapat satu orang, jadi kita bisa langsung uji coba, gitu. Kalau untuk uji coba trial and error-nya cuman 10 orang,” jelasnya.
Menurut Paulina, para pemain menilai Yucca Card memiliki konsep yang menarik sekaligus menantang.
Permainan bahkan dapat memunculkan persaingan yang cukup panjang antarpemain.
“Responnya mereka bilang kayak, ini menarik banget dan juga challenging, kayak ada tantangannya banyak gitu,” tuturnya.
Di balik konsep permainan tersebut, tim Yucca Card juga ingin menyampaikan pesan bahwa permainan seharusnya dapat menjadi ruang yang mempertemukan siapa saja tanpa membuat seseorang merasa berbeda atau minder karena memiliki keterbatasan tertentu.
Paulina mengatakan salah satu harapan utama dari pengembangan kartu tersebut adalah mengurangi rasa tidak percaya diri yang mungkin muncul pada teman-teman penyandang buta warna ketika bermain bersama orang dengan penglihatan warna normal.
“Harapannya mungkin untuk teman-teman yang color blind itu bisa bermain juga tanpa ada rasa insecure kalau misalnya kita main bareng teman-teman yang ini, mereka bilangnya, mereka kayak insecure aja gitu,” paparnya.
Sementara itu, Daigo Tanu Saputra, penggagas Yucca Card sekaligus alumni Visual Communication Design, mengatakan Yucca Card tidak akan berhenti pada satu jenis permainan.



