“Melalui JELITA, kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa minyak jelantah bukan sekadar limbah. Jika dikumpulkan dan dikelola dengan baik, jelantah memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan,” ujarnya.
JELITA menjadi salah satu inovasi yang dipelajari TP PKK Musi Rawas dalam agenda studi tiru tersebut.
Kunjungan ini juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman mengenai pemberdayaan keluarga dan penguatan kelembagaan TP PKK.
Selain pengelolaan jelantah, TP PKK Kabupaten Tegal memaparkan sejumlah program lain.
Di antaranya desa binaan yang mencakup 18 kecamatan, pelatihan kelembagaan Pokja 1 hingga Pokja 4, serta transformasi Posyandu yang mengacu pada enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Nilna mengatakan, pengembangan program perlu menyesuaikan kebutuhan dan potensi masyarakat di masing-masing wilayah.
Peran kader juga menjadi bagian penting agar program tidak berhenti sebagai kegiatan kelembagaan.
“Program-program TP PKK harus terus berkembang dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Yang terpenting adalah bagaimana kader dapat menjadi penggerak di tengah masyarakat dan mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,” katanya.
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyambut kunjungan tersebut sebagai kesempatan untuk saling berbagi pengalaman.
Menurutnya, setiap daerah memiliki inovasi dan potensi yang dapat dipelajari daerah lain.
“Ini menjadi momentum untuk memperkuat gotong royong, silaturahmi, dan kolaborasi antardaerah. Masing-masing daerah memiliki potensi dan inovasi yang dapat saling dipelajari,” kata Ischak.




