“Alhamdulillah, anak-anak sudah lancar. Semoga bisa ditingkatkan lagi dan ditambah jamnya untuk anak-anak belajar di pondok setiap pekannya,” pesan Choiruddin.
Harapan tersebut menjadi catatan bagi pengembangan Tafaqquh Fiddin. Pendidikan agama dinilai tidak cukup diberikan sebatas pengetahuan, tetapi perlu mendapatkan ruang lebih luas agar menjadi kebiasaan dan karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat itu sejalan dengan pesan Ketua PDM Kota Surabaya, Dr. H. M. Ridlwan, M.Pd., yang menilai pendidikan Muhammadiyah perlu memiliki kekuatan berbasis pesantren. Generasi muda, menurutnya, perlu dibekali ilmu dunia dan akhirat secara seimbang.
“Anak-anak harus memiliki bekal untuk menghadapi kehidupan dunia, tetapi juga memiliki bekal untuk kehidupan akhirat,” menjadi semangat yang menguatkan arah pendidikan tersebut.
Dalam pelantikan itu, empat wakil kepala sekolah resmi menerima amanah untuk periode 2026–2030. Mereka adalah Sudarti, S.Ag., Gr., M.Pd., sebagai Waka ISMUBAH dan Kesiswaan; Qonik Hanifa, S.Pd., Gr., M.M., sebagai Waka Humas; Badri, S.Pd., Gr., sebagai Waka Sarpras; serta Agus Dwi Hartono, S.Si., Gr., M.Pd., sebagai Waka Kurikulum.






