“Padahal, pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan saat ini merupakan bentuk konsumsi dengan short-term orientation (orientasi jangka pendek). Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek,” jelasnya.
Konser Habis Terjual Cuma Mewakili Segmen Tertentu
Gancar mengingatkan, fenomena konser tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal untuk membaca kesehatan ekonomi nasional.
Indikator makroekonomi mencakup kondisi yang jauh lebih luas, seperti inflasi dan tingkat pengangguran.
Sementara itu, pasar tiket konser hanya menyasar kelompok konsumen dengan karakteristik tertentu.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bubble effect, ketika aktivitas terlihat besar karena terkonsentrasi pada kelompok tertentu, tetapi porsinya kecil jika dibandingkan keseluruhan populasi.
“Kapasitas stadion besar seperti GBK atau JIS mampu menampung 70 hingga 80 ribu penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa. Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia,” paparnya.
Artinya, puluhan ribu orang yang memenuhi stadion dan tiket yang habis dalam waktu singkat belum cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan daya beli masyarakat Indonesia sedang tinggi.
Pasar konser juga memiliki konsumen yang spesifik. Sebagian di antaranya merupakan penggemar dengan loyalitas sangat tinggi atau hardcore loyalist.
Pengeluaran besar dilakukan pada momentum tertentu dan tidak bersifat rutin.




