Surabaya, Cakrawalanews.co | Gerakan membasuh kaki orang tua yang diikuti puluhan ribu pelajar di Surabaya mendapat apresiasi dari Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan, M. Isa Ansori. Menurutnya, inisiatif yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Wali Kota Eri Cahyadi merupakan langkah nyata menanamkan pendidikan karakter di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Di saat dunia pendidikan banyak dihadapkan pada persoalan degradasi moral, renggangnya hubungan dalam keluarga, hingga dominasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari, Isa memandang gerakan tersebut menghadirkan pesan sederhana namun memiliki dampak jangka panjang, yakni membangun kembali budaya menghormati orang tua sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.
Ia menegaskan, kegiatan yang digelar pada Sabtu (20/6/2026) itu tidak sepatutnya dipandang hanya sebagai seremoni atau upaya memecahkan rekor karena makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih besar daripada simbol yang terlihat di permukaan.
“Gerakan membasuh kaki orang tua yang melibatkan puluhan ribu anak di Surabaya patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, bukan pula hanya tentang pemecahan rekor. Lebih dari itu, gerakan ini merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi pembentukan karakter anak bangsa,” ujar Isa, Senin (22/6/2026).
Menurut Isa, keberanian menghadirkan pendidikan karakter melalui ruang publik patut diapresiasi karena di tengah orientasi pendidikan yang sering berfokus pada capaian akademik, aspek pembentukan akhlak justru menjadi kebutuhan mendasar bagi masa depan bangsa.
“Saya mengapresiasi Wali Kota Surabaya yang berani menghadirkan pendidikan karakter dalam ruang publik melalui simbol yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Di tengah kecenderungan pendidikan yang sering berorientasi pada capaian akademik semata, Surabaya menghadirkan sebuah pelajaran penting bahwa kecerdasan tanpa adab tidak akan melahirkan peradaban yang kuat,” katanya.
Bagi Isa, membasuh kaki orang tua bukan sekadar ritual simbolik. Tindakan tersebut mengandung makna kerendahan hati, penghormatan, serta pengakuan atas perjuangan ayah dan ibu yang telah membesarkan anak-anak mereka dengan penuh pengorbanan.
Di balik prosesi sederhana itu, terdapat pesan tentang pentingnya rasa syukur kepada orang tua yang telah mendampingi perjalanan hidup anak sejak lahir hingga dewasa. Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, dan merawat tanpa pamrih, serta seorang ayah yang bekerja keras demi masa depan keluarga, menurutnya, layak mendapatkan penghormatan yang ditanamkan sejak dini kepada setiap anak.
Sebagai pengurus LPA Jawa Timur, Isa menilai keluarga merupakan lingkungan pertama sekaligus benteng utama dalam perlindungan anak. Ketika hubungan anak dan orang tua dibangun di atas kasih sayang, komunikasi yang sehat, dan sikap saling menghargai, anak akan tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki daya tahan menghadapi berbagai tantangan sosial.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa tidak sedikit persoalan yang dihadapi anak-anak saat ini berakar dari melemahnya relasi di dalam keluarga. Berkurangnya penghormatan kepada orang tua dan renggangnya komunikasi dinilai dapat menghilangkan salah satu sumber pendidikan karakter yang paling mendasar.
“Banyak persoalan yang menimpa anak-anak saat ini sesungguhnya berakar dari melemahnya hubungan dalam keluarga. Ketika penghormatan kepada orang tua mulai memudar, ketika komunikasi dalam keluarga semakin renggang, maka anak kehilangan salah satu sumber pembelajaran karakter yang paling penting dalam hidupnya,” tuturnya.
Karena itu, Isa memandang gerakan membasuh kaki orang tua sebagai investasi sosial yang memiliki nilai strategis. Selain menanamkan rasa hormat kepada keluarga, kegiatan tersebut juga mengajarkan empati, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah lepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya.
“Gerakan membasuh kaki orang tua sesungguhnya merupakan investasi sosial yang sangat berharga. Ia mengajarkan anak-anak tentang rasa syukur. Ia mengajarkan tentang empati. Ia mengajarkan bahwa kesuksesan tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan menghargai jasa dan pengorbanan orang lain,” jelasnya.
Sebagai Wakil Ketua ICMI Jawa Timur Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan, Isa juga menekankan bahwa pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter. Pendidikan yang ideal tidak hanya melahirkan lulusan dengan kemampuan akademik tinggi, tetapi juga pribadi yang bertanggung jawab, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Ia menilai apa yang dilakukan Surabaya dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain di Indonesia. Pembangunan sebuah kota, menurutnya, tidak cukup diwujudkan melalui infrastruktur fisik seperti jalan, gedung, atau ruang terbuka hijau, melainkan juga melalui investasi dalam pembentukan karakter generasi penerus.
“Kita membutuhkan generasi yang menguasai teknologi tanpa melupakan penghormatan kepada orang tua. Sebab, kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari kemampuan menghargai pengorbanan mereka yang telah membimbing sejak awal,” ungkapnya.
Isa menambahkan, air yang digunakan untuk membasuh kaki orang tua mungkin akan segera mengering, tetapi nilai yang ditanamkan melalui kegiatan tersebut diharapkan terus hidup dalam diri anak-anak sebagai kompas moral ketika mereka tumbuh dewasa.
“Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang cerdas, tetapi juga oleh generasi yang beradab. Dan adab yang paling pertama adalah menghormati ayah dan ibu,”












