Meski demikian, Agus mengakui penerapan sistem silvofishery masih memerlukan edukasi yang masif kepada masyarakat pesisir yang selama ini terbiasa menggunakan metode konvensional.
Karena itu, BRIDA menyiapkan sejumlah kawasan tambak percontohan atau pilot project. Program ini bertujuan agar para petambak dapat melihat secara langsung efektivitas dan peningkatan hasil panen sebelum menerapkannya secara mandiri.
“Kita punya beberapa area yang bisa dicobakan, kadang orang akan percaya kalau sudah lihat hasilnya, oh iya (hasil) bisa banyak,” katanya.
Agus berharap konsep silvofishery dapat diterapkan lebih luas sehingga mampu meningkatkan hasil perikanan sekaligus memperluas tutupan mangrove di Surabaya.
“Insyaallah ini terus kita sebarkan agar nanti ikannya tambah banyak tapi tutupan lahan atas mangrove juga bertambah luas. Alhasil nanti, hawanya Surabaya tambah dingin, banyak oksigennya,” harapnya.












