Cakrawala JatimCakrawala NewsCakrawala SurabayaHeadline

Rumah Pompa Baru Surabaya Dikebut Target Bebas Banjir Akhir 2026

×

Rumah Pompa Baru Surabaya Dikebut Target Bebas Banjir Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Eri Cahyadi Tinjau Rumah Pompa Baru Pengendali Banjir di Surabaya Selatan
Wali Kota Eri Cahyadi Tinjau Rumah Pompa Baru Pengendali Banjir di Surabaya Selatan

SURABAYA – cakrawalanews.co | Pemerintah Kota Surabaya memperkuat sistem pengendalian banjir di wilayah selatan dan timur dengan mengoperasikan tiga rumah pompa baru sejak Januari 2026. Langkah itu menjadi bagian dari target besar Pemkot Surabaya untuk menuntaskan persoalan banjir dan genangan pada akhir tahun ini.

Tiga rumah pompa tersebut berada di kawasan Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani. Masing-masing memiliki kapasitas 6,5 meter kubik per detik, dilengkapi tiga unit pompa serta screen penyaring sampah guna mempercepat aliran air dan mengurangi beban saluran.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, penanganan banjir di wilayah selatan dan timur menjadi prioritas utama Pemkot Surabaya sepanjang 2026. Karena itu, berbagai langkah dilakukan secara bertahap mulai dari pembangunan rumah pompa, pengerukan saluran, pengaturan elevasi air, hingga pembangunan storage atau penampungan air.

“Ini adalah pembangunan yang dilakukan Pemkot Surabaya di tahun 2026. Karena nanti target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir,” ujar Eri saat meninjau Rumah Pompa Dukuh Menanggal, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, keberadaan rumah pompa baru mampu mempercepat surutnya air sekaligus mengurangi tekanan pada saluran di kawasan permukiman padat. Pemkot juga menyiapkan pembangunan rumah pompa tambahan di sejumlah titik rawan genangan seperti Panjang Jiwo dan kawasan depan Gereja Bethany Nginden.

“Jadi nanti kita akan bangun rumah pompa baru di Panjang Jiwo depan SPBU, satu di depannya Gereja Bethany Nginden di tahun ini,” katanya.

Eri menjelaskan, salah satu penyebab utama banjir di Surabaya Selatan adalah penumpukan aliran air di satu jalur utama. Selama ini, aliran dari kawasan Karah dan Jambangan mengarah ke Avour Wonorejo sehingga memicu antrean air dan banjir di kawasan Margorejo.

“Kalau di Margorejo banjir, otomatis air akan balik dan menyebabkan wilayah Karah serta Jambangan ikut banjir,” ujarnya.

Berdasarkan evaluasi lapangan, Pemkot Surabaya kemudian mengalihkan sebagian aliran air menuju saluran Kebon Agung yang dinilai masih memiliki kapasitas lebih longgar. Saluran tersebut dihubungkan dengan Kali Surabaya menggunakan pompa agar distribusi debit air lebih merata.

“Maka saya minta yang menuju Margorejo ditutup, lalu dialihkan menuju Kebon Agung. Sementara aliran di Margorejo diteruskan ke Avour Wonorejo. Kita bagi bebannya agar tidak menumpuk di satu titik,” paparnya.

Ia menekankan, pemetaan aliran air menjadi faktor penting dalam penanganan banjir. Perubahan arah aliran, elevasi saluran, hingga posisi rumah pompa harus dihitung secara detail agar sistem pengendalian berjalan optimal.

Karena itu, para lurah, camat, dan kepala dinas juga diminta memahami teknis pengukuran elevasi menggunakan alat seperti theodolite dan waterpass untuk memastikan penanganan banjir dilakukan dari hulu hingga hilir.

Selain rumah pompa, Pemkot Surabaya juga menyesuaikan metode pembangunan drainase di sejumlah kawasan. Pada saluran Jemursari hingga Sarono Jiwo, pembangunan dilakukan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP).

Sedangkan di kawasan Panjang Jiwo, pelebaran saluran tidak memungkinkan dilakukan karena terhalang jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt. Sebagai solusi, pemkot akan membangun storage air di badan jalan untuk membagi aliran menuju sungai besar maupun rumah pompa.

“Fungsi storage itu adalah untuk pembagian air,” kata Eri.

Pemkot Surabaya juga menilai persoalan genangan dipengaruhi berkurangnya area resapan akibat masifnya pembangunan permukiman. Kondisi itu membuat air hujan langsung mengalir ke saluran tanpa terserap tanah.

“Jadi ketika semua resapan habis dengan rumah, maka air hujan langsung masuk ke irigasi,” tuturnya.

Meski begitu, Eri optimistis titik-titik genangan prioritas bisa bebas banjir pada November 2026. Penanganan itu disebut sebagai strategi jangka pendek sebelum pemkot melanjutkan penanganan ke wilayah lain pada tahun berikutnya.

“Insyaallah bulan November kalaupun terjadi hujan, maka titik-titik yang telah kita datangi tidak terjadi lagi genangan,” terangnya.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah mengatakan, pembangunan rumah pompa dilakukan menyesuaikan perubahan pola genangan akibat pertumbuhan kawasan permukiman.

“Dulu lahan terbuka hijau masih banyak. Sekarang dengan bertambahnya permukiman, air hujan tidak lagi terserap ke tanah melainkan langsung lari ke saluran. Jadi beban saluran otomatis jauh lebih tinggi,” ujar Hidayat.

Menurutnya, tiga rumah pompa baru itu sudah menunjukkan hasil positif selama beberapa bulan terakhir. Rumah Pompa Ahmad Yani membantu mengurangi genangan di kawasan Gayung Kebonsari dan Kebonsari Barat. Sementara Rumah Pompa Margorejo mengatasi genangan di Margorejo, Bendul Merisi, dan Sidosermo.

“Sejak Januari lalu, kawasan Sidoresmo menunjukkan tren penurunan genangan yang signifikan dan air menjadi lebih cepat surut,” katanya.

Sementara Rumah Pompa Dukuh Menanggal difokuskan untuk mengurangi genangan di kawasan Gayungsari Timur, Wisma Pagesangan, dan Jalan Menanggal dengan mengalirkan air langsung menuju Kali Perbatasan Surabaya-Sidoarjo.

Selain membangun rumah pompa baru, Pemkot Surabaya juga meningkatkan kapasitas rumah pompa lama untuk mengimbangi peningkatan debit air saat hujan deras.

“Sifatnya ada yang peningkatan kapasitas. Dari yang semula kapasitasnya 6 kubik, beban salurannya kita upgrade menjadi 9 kubik,” tutur Hidayat.

Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita menambahkan, hingga saat ini Surabaya memiliki sekitar 90 rumah pompa yang tersebar di berbagai wilayah.

Pada 2026, pembangunan rumah pompa baru masih terus dikebut di kawasan padat seperti Nginden Intan, Panjang Jiwo, Ketintang, Tambak Segaran, dan Margomulyo.

Namun demikian, Adi mengingatkan keberhasilan pengendalian banjir juga bergantung pada partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air.

“Tolong jangan buang sampah di saluran, karena jika sampah menumpuk di penyaringan rumah pompa, proses penyedotan air otomatis akan terhambat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *