Ia juga tak menampik kondisi sejumlah SWK di Surabaya yang dinilai belum berkembang optimal dan mengalami penurunan jumlah pengunjung.
“Banyak SWK di Surabaya itu hidup segan mati tak mau. Pedagang mengeluh sepi. Modal Rp400 ribu sehari, pulangnya hanya Rp200 ribu. Akhirnya banyak yang merugi,” ujarnya.
Yona menegaskan SWK Wiyung sebenarnya memiliki fasilitas yang cukup baik dan bersih. Bahkan, masih terdapat 11 stan kosong yang dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa dikenakan biaya sewa.
“Kalau ada yang bilang masuk SWK harus bayar jutaan, silakan laporkan ke saya. Tidak ada biaya sewa stan. Yang ada hanya iuran listrik, air dan kebersihan sekitar Rp367 ribu per bulan,” tegasnya.
Sementara itu, Aslan, warga RT 02 Wiyung, berharap Satpol PP tetap memikirkan keberlangsungan ekonomi pedagang kecil.
“Saya lihat penertiban terkadang masih tebang pilih. Ada titik yang dibersihkan total, tapi tempat lain dibiarkan. PKL juga butuh solusi supaya tidak kehilangan pekerjaan,” ujarnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Yona mengaku telah beberapa kali meminta Satpol PP agar penertiban dilakukan secara humanis dan konsisten.












