“Selama ini sektor-sektor seperti ritus atau teknologi tradisional mungkin kurang terpikirkan. Kami akan mengidentifikasi dulu potensinya agar gerak kami dirasakan langsung oleh warga di tingkat kelurahan, bukan hanya oleh kalangan seniman,” ujar Heti Palestina Yunani.
Untuk menjalankan visi Wali Kota Eri, DKS akan mengedepankan riset sebelum mengambil keputusan. Penelitian ini bertujuan agar arah kebijakan Wali Kota Surabaya memiliki dasar yang kuat. Misalnya, riset mengenai pengembangan aksara Jawa atau spesifikasi seni Ludruk yang paling relevan untuk dikembangkan saat ini.
Terkait keterlibatan seniman lintas generasi, Heti akan melakukan pendekatan khusus. Ia ingin para seniman senior tidak lagi sekadar menjadi pelaksana aksi melainkan naik kelas menjadi pemikir dan mentor.
“Sudah waktunya para senior memikirkan regenerasi. Budaya tidak akan lestari jika hanya berhenti di tangan mereka. Kami akan mengajak mereka berkolaborasi dalam workshop, pelatihan, hingga kemungkinan mendirikan sekolah budaya agar transfer pengetahuan tidak terputus,” tambahnya.
Heti menambahkan bahwa kepemimpinannya akan banyak melakukan riset terkait semua aspek kebudayaan. Misalnya, melalui penelitian dapat dipetakan identitas musik dan seni Surabaya agar memiliki ciri khas yang kuat.
“Kami tidak hanya bicara tentang penyelenggaraan event, tapi apa yang ada di balik penampilan tersebut. Apakah Ludruk yang ditampilkan sudah sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akarnya. Inilah kerja-kerja di balik layar yang akan kami lakukan bersama Pemkot Surabaya,” tandasnya.
Dengan strategi ini, DKS optimistis dapat menjawab tantangan Wali Kota untuk menghidupkan kembali nyawa kebudayaan Surabaya sekaligus memastikan warisan budaya tersebut dipahami dan dimiliki oleh generasi muda.












