Sementara itu, pimpinan GSN Sholikin menegaskan bahwa kesenian tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga media pemersatu warga. Menurutnya, aktivitas seni mampu membangun kebersamaan tanpa memandang latar belakang sosial maupun keyakinan.
Ia juga menyebut keberadaan sanggar busana yang dipimpin Nurohim turut memperkuat pengembangan komunitas seni tersebut.
“Melalui kesenian ini, warga bisa berkumpul, bersilaturahmi, dan menjaga kebersamaan,” tutur Sholikin.
Di tengah perkembangan era modern, kuda lumping yang dahulu identik dengan kehidupan pedesaan kini tetap mampu menarik perhatian masyarakat lintas generasi. Bagi komunitas GSN, melestarikan budaya bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga membangun masa depan yang tetap berakar pada identitas lokal.
Dengan semangat “Kepandean Bangga Budaya, Warisan Kita, Masa Depan Jaya,” Gumarang Sakti Nusantara terus membuktikan bahwa seni tradisional masih hidup, tumbuh, dan relevan di tengah perubahan zaman.












