Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh mengatakan, keunggulan utama program ini terletak pada paket satu harga yang sudah mencakup seluruh kebutuhan pasien sejak menginjakkan kaki di Surabaya.
“Jadi dalam program ini, garis besarnya adalah orang yang sakit kita rawat, sementara keluarga yang menemani bisa kita layani untuk berwisata. Semua sudah terkandung dalam satu paket harga,” ujar dr. Billy.
Ia menjelaskan bahwa teknis dari layanan ini cukup mudah, yakni pasien cukup menghubungi pihak rumah sakit atau biro perjalanan yang bekerja sama untuk menentukan layanan apa yang akan dijalankan. Dalam pelaksanaan program ini, Dinkes optismis karena telah berpengalaman menangani pasien dari wilayah Indonesia Timur, seperti NTT dan Papua.
“Misalnya, pasien dijemput langsung di Bandara Juanda menggunakan ambulans sesuai protokol, langsung menuju rumah sakit hingga dinyatakan sembuh. Setelah masa pemulihan, pasien maupun keluarga diberikan fasilitas untuk menikmati destinasi wisata di Surabaya sebelum kembali ke daerah asal,” ujar dr Billy.
Terkait persaingan harga dengan destinasi medis luar negeri seperti Malaysia atau Singapura, dr. Billy menegaskan bahwa Surabaya memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan. Selain memangkas biaya transportasi internasional dan akomodasi yang mahal, tarif medis di Surabaya tetap mengacu pada peraturan daerah (Perda).
“Kalau dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura, kita jauh lebih murah. Perbandingannya, jika di sana 100 persen, di sini mungkin hanya 75 persen nya. Jadi bisa hemat sekitar 25 persen dengan kualitas dokter yang tidak kalah hebat,” paparnya.












