Cakrawalanews.co- Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PWNU Jawa Timur mengimbau para intelektual NU untuk mulai mengembangkan metode dakwah Islam yang berbasis pada hasil riset. Langkah ini dinilai mendesak mengingat realitas di era digital saat ini sering kali menempatkan kebenaran hanya berdasarkan narasi yang viral, padahal hal tersebut belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Wakil Ketua LPTNU PWNU Jatim, Prof. Dr. Abdul Malik Karim Amrullah, menyatakan di Surabaya pada Jumat bahwa selama ini institusinya dirasa masih kurang dalam aspek akhdzu bil jadidil aslah atau mengambil hal-hal baru yang lebih baik, karena masih terlalu fokus pada muhafadzatu ‘alal qadimis shalih atau sekadar memelihara tradisi lama yang baik. Beliau menjelaskan bahwa intelektual NU perlu mengangkat dakwah berbasis riset melalui produk-produk intelektual sebagai bentuk penguatan merek atau branding bagi organisasi.
“Sejak awal kelahirannya, pendirian NU itu sudah merupakan respons global yang dilakukan KH Wahab Chasbullah melalui Komite Hijaz bersama H Hasan Gipo, tapi saat ini belum ada branding NU yang mengglobal, karena itu riset oleh LPTNU sudah saatnya menjadi bahan utama untuk dimunculkan ke global lewat media, bukan sebatas jurnal, karena era-nya,” ungkap Prof. Abdul Malik.
Sebagai contoh konkret, Pengurus LPTNU PWNU Jatim, Dr. Nur Husnul Yusmiati, memaparkan hasil riset mengenai ajaran Islam dalam penyembelihan hewan. Studi tersebut menunjukkan bahwa hewan yang disembelih dengan mengucap “bismillah” menjadi lebih tenang, yang kemudian berdampak positif pada kualitas daging yang dihasilkan. Selain itu, ia juga menyoroti manfaat ibadah dari sudut pandang sains.
“Puasa secara riset juga menunjukkan adanya fenomena Autofagi yakni proses daur ulang secara mandiri dalam sel-sel otak untuk membuang bagian yang rusak dan membersihkan sampah metabolisme. Jadi puasa justru membantu otak melakukan proses pembersihan besar-besaran, sehingga otak tambah segar dan sehat,” ujar Nur Husnul yang juga merupakan penggagas Halal Center di ISNU dan DMI Jatim.
Paparan riset tersebut mendapat apresiasi dari Prof. Abdul Malik sebagai model yang harus dikembangkan, mengingat sejarah perguruan tinggi pertama di dunia Islam yang berdiri di Maroko pun berbasis pada masjid dan nilai spiritualitas. Senada dengan hal itu, Sekretaris LPTNU PWNU Jatim, Dr. Winarto Eka Wahyudi, menekankan pentingnya pengembangan potensi riset di 119 Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) yang tersebar di seluruh cabang di Jawa Timur.
Menurut Dr. Winarto, pengembangan riset sangat krusial agar NU terus berkembang pada abad keduanya, setelah para pendiri berhasil membawa organisasi melewati satu abad pertama dengan sukses. Ia mengingatkan agar kualitas tidak menurun di abad kedua ini, terutama di tengah era kecerdasan buatan (AI) yang cenderung lebih mengedepankan algoritma daripada sebuah proses.( wa/at)












