Cakrawala DaerahCakrawala HobiCakrawala JatimHeadline

Dinkes Kota Malang Pastikan 98,8 Persen Sampel Takjil Aman Dikonsumsi

×

Dinkes Kota Malang Pastikan 98,8 Persen Sampel Takjil Aman Dikonsumsi

Sebarkan artikel ini
Dinkes Kota Malang,98,8 Persen Sampel aman.jpg
Dinkes Kota Malang,98,8 Persen Sampel aman.jpg

Proses pengambilan sampel dilakukan oleh Dinkes Kota Malang di 19 titik pasar takjil selama tiga hari, mulai tanggal 23 hingga 26 Februari 2026, dengan melibatkan pihak kelurahan serta puskesmas setempat. Meskipun mayoritas aman, dr. Husnul memaparkan bahwa dari ratusan sampel yang diuji, terdapat beberapa yang dinyatakan tidak memenuhi syarat karena ditemukan kandungan bakteri e-coli maupun rhodamin B atau zat pewarna sintetis. Berdasarkan data Dinkes Kota Malang, dari 101 sampel yang diambil, terdapat 9,9 persen yang terpapar bakteri e-coli, yang berarti 91 sampel memenuhi syarat kesehatan dan 10 sampel lainnya tidak. Sementara itu, kandungan rhodamin B ditemukan pada empat dari 69 sampel takjil, dengan persentase 94,2 persen memenuhi syarat dan 5,8 persen sisanya tidak memenuhi syarat.

Kabar baiknya, Dinkes tidak menemukan adanya kandungan bahan kimia berbahaya lainnya seperti boraks pada 73 sampel, formalin pada 72 sampel, maupun methanil yellow pada 25 sampel takjil yang diuji. Menindaklanjuti temuan zat berbahaya tersebut, Dinkes meminta seluruh pedagang terkait untuk segera memperbaiki kualitas bahan baku mereka demi menjaga keselamatan masyarakat. dr. Husnul menegaskan, “Sudah ditindaklanjuti karena di situ (data) terdapat jelas alamat dan namanya (pedagang), kami menyampaikan kalau makanan dan minuman yang disajikan di pasar takjil mengandung bahan tak direkomendasikan.”

Selain itu, pihak Dinkes sebenarnya telah melakukan pelatihan bagi penjamah makanan untuk memberikan pemahaman mengenai jenis bahan tambahan pangan (BTP) yang berbahaya. Namun, dr. Husnul mengakui bahwa edukasi tersebut belum bisa menjangkau seluruh pedagang secara menyeluruh, mengingat banyaknya pedagang dadakan yang muncul hanya saat bulan Ramadhan. Terkait hal tersebut, beliau menambahkan, “Itu yang belum kami latih untuk pelatihan penjamah makanan tapi sudah mendapatkan informasi dari teman-teman.” ( wa/at)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *