Berdasarkan catatan resmi, angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Malang terus menunjukkan tren penurunan dari 6,10 persen pada 2024 menjadi 5,69 persen pada 2025. Apabila serapan tenaga kerja pada 2026 terealisasi sesuai proyeksi, angka TPT diprediksi akan kembali turun ke level 5,4 persen. Penurunan ini dinilai sejalan dengan perkembangan positif nilai investasi yang meroket, di mana pada 2024 Pemkot Malang meraup Rp2,4 triliun dari target Rp1,4 triliun, dan tumbuh menjadi Rp3,11 triliun pada 2025. Untuk tahun 2026, pemerintah kota memburu perolehan investasi sekitar Rp3,6 triliun. Arif merinci bahwa sektor makanan dan minuman seperti kafe serta restoran menyumbang 45 persen investasi, disusul sektor properti 25 persen, dan hotel sebesar 20 persen.
Selain mengandalkan investasi, Pemkot Malang juga memastikan program bursa kerja akan tetap berjalan pada 2026 guna menekan angka pengangguran meskipun jadwal penyelenggaraannya masih dalam tahap persiapan. Arif tidak memungkiri bahwa merealisasikan target tersebut memiliki tantangan tersendiri, berkaca pada pengalaman akhir tahun 2025 di mana target baru terpenuhi saat menjelang tutup tahun karena kendala pelaporan aset dan permodalan dari investor. Ia menegaskan bahwa persoalan administratif semacam itu akan terus diminimalkan agar pelaksanaan bisnis dan penyerapan pekerja bisa berjalan lebih cepat. “Kami optimistis, baik untuk nvestasi maupun serapan tenaga kerja bisa tercapai beriringan,” pungkasnya.( wan/at)



