Cakrawalanews.co – Tebuireng Institute menggelar diskusi mendalam bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qanun Al-Asasi” di Gedung K.H. Yusuf Hasyim, Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu (14/2). Pertemuan tersebut menghasilkan seruan kuat agar Nahdlatul Ulama (NU) kembali menghidupkan spirit Qanun Asasi karya Rais Akbar Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari sebagai kompas organisasi.
Pengasuh Pesantren Tebuireng, K.H. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin), menekankan bahwa esensi Qanun Asasi adalah persatuan umat dalam mencari rida Allah. Menurut cicit Hadratussyaikh tersebut, spirit ini terbukti mampu menjadi solusi bangsa di masa lalu, termasuk saat memotivasi rakyat lepas dari penjajahan melalui jalur pendidikan dan perjuangan fisik. Gus Kikin juga mengingatkan pesan Presiden Prabowo mengenai peran strategis NU dalam sejarah kemerdekaan yang berakar dari modal historis tersebut.
Dalam perspektif akademis, Guru Besar UIN Sunan Ampel, Prof. Dr. H. Abd A’la, menilai bahwa meski NU konsisten bermadzhab, secara operasional Qanun Asasi belum sepenuhnya menjadi “jiwa” organisasi. Ia menyoroti dinamika sejarah NU sejak masa fusi partai politik hingga kembali ke Khittah 1926 pada tahun 1984, yang menurutnya masih menyisakan ruang besar untuk maksimalisasi program sosial bagi umat.
Senada dengan hal itu, Dewan Masyayikh Tebuireng, Dr. K.H. Mustain Syafi’i, menegaskan bahwa NU sebagai organisasi ulama sejatinya harus dipimpin oleh kalangan ulama, bukan oleh pihak yang hanya berorientasi pada kepentingan pragmatis. Beliau mencontohkan bagaimana Resolusi Jihad dirumuskan dengan dasar fiqih yang kuat sehingga mampu menggerakkan umat secara ideologis dan teologis.
Sementara itu, tokoh muda NU, Dr. Rizal Mumazziq, membedah struktur Qanun Asasi yang disusun berdasarkan 44 ayat Al-Qur’an, enam hadis, dan lima pendapat sahabat. Ia menggarisbawahi lima pilar utama di dalamnya: persatuan, persaudaraan, sanad keilmuan, kepatuhan madzhab, dan kemaslahatan umat. Rizal mengkritik kecenderungan organisasi saat ini yang terlalu bersifat seremonial dan mendorong pengurus NU untuk lebih fokus pada aksi sosial yang responsif serta adaptif.
Diskusi yang bertepatan dengan hari kelahiran K.H. M. Hasyim Asy’ari ini ditutup dengan harapan dari Wasekjen PBNU, H. Nur Hidayat. Ia mengakui adanya pergeseran peran ulama dalam beberapa muktamar terakhir dan berharap momentum ini menjadi titik balik bagi penguatan pemahaman NU sebagai jam’iyah yang setia pada nilai-nilai luhur pendirinya.( ar/an)












