Cakrawalanews.co- Pemerintah Kabupaten Lumajang resmi mempercepat langkah mitigasi bencana Gunung Semeru dengan membangun infrastruktur pengendali lahar yang komprehensif.
Upaya ini ditegaskan sebagai investasi keselamatan jangka panjang guna melindungi nyawa serta sumber penghidupan masyarakat di kawasan rawan bencana.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan proyek Volcanic Disaster Risk Reduction Sector Loan (VDRRSL) Paket S2 dan S4. Proyek strategis ini dirancang untuk merespons karakteristik risiko Semeru yang bersifat berulang dan berdampak luas di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bondoyudo–Bedadung.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, menekankan bahwa pembangunan ini memerlukan perencanaan matang serta dukungan penuh dari seluruh pihak agar perlindungan masyarakat benar-benar maksimal.
Paket S2 yang berlokasi di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, difokuskan pada penguatan wilayah hulu yang menjadi jalur utama aliran lahar. Infrastruktur yang dibangun meliputi dua unit bangunan pengendali sedimen (sabodam), revetmen beton sepanjang 900 meter, serta akses jalan sepanjang 500 meter. Dengan kapasitas tampung mencapai 1 juta meter kubik, fasilitas ini diharapkan mampu mereduksi daya rusak aliran lahar sebelum mencapai permukiman warga dan lahan produktif di hilir.
Di sisi lain, Paket S4 menyasar wilayah Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, yang memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir lahar dan sedimentasi. Pekerjaan di wilayah tengah hingga hilir ini mencakup pembangunan satu unit consolidation dam serta enam ruas tanggul pengarah aliran sepanjang 2.500 meter. Dengan kapasitas tampung sedimen sebesar 0,34 juta meter kubik, proyek ini diproyeksikan dapat memperkuat ketahanan ekonomi sosial masyarakat yang selama ini kerap terdampak bencana hidrometeorologi.
Meski fokus pada pembangunan fisik, Pemerintah Kabupaten Lumajang juga memperhatikan realitas sosial di lapangan, terutama terkait aktivitas penambangan pasir rakyat. Koordinasi lintas sektor terus dilakukan agar pembangunan infrastruktur tetap berjalan tertib dan aman tanpa menimbulkan konflik sosial.
Keberhasilan proyek ini nantinya tidak hanya diukur dari rampungnya bangunan, tetapi dari sejauh mana risiko bencana dapat ditekan dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap mitigasi berkelanjutan dapat terbentuk.( wa/ar)



