Untungnya, mobil mini yang dibekali dengan konsep alumunium-air battery berkekuatan 7 Volt ini berhasil berhenti di jarak 4,31 meter atau sejauh 19 cm dari garis finish. Tidak hanya itu, pada tantangan pertama, Spektronics 15 berhasil menyarangkan bola ke gawang dan mengantongi nilai sebesar 50 poin.
“Error yang kami buat pun hanya sejauh minus 19 cm, melampaui catatan tahun sebelumnya yang mencapai error sejauh 40 cm, tukas mahasiswa Departemen Teknik Kimia ITS ini. Perolehan tingkat error yang cukup kompetitif tersebut kemudian mengantarkan Tim Spektroniks ITS menduduki posisi ketiga,” jelasnya.
Hadi mengatakan, tahun ini tim melakukan beberapa perubahan dari Spektronics generasi sebelumnya yakni desain pengemasan dan penambahan beberapa komponen inovasi. Desain baterai Spektronics 15 menggunakan konfigurasi stack yang dapat mengurangi penggunaan elektrolit yang berlebihan.
“Untuk stopping mechanism-nya, mobil ini menggunakan degradasi dari magnesium oleh asam hidroklorida,” papar Hadi.
Sayangnya, pada tantangan kedua, Spektronics 15 gagal menjatuhkan pin bowling. Meski demikian, tim ini masih berhasil meminimalisir error sejumlah 0,19 meter. Menurut Hadi, salah satu kendalanya adalah miringnya lintasan sehingga tidak ada satupun tim yang berhasil menjatuhkan pin.












