Namun realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Puguh mencontohkan, penurunan angka pernikahan terlihat jelas di sejumlah kota besar di Jawa Timur, seperti Surabaya, Batu, Malang, dan beberapa daerah lainnya.
Ia menilai, fenomena ini tidak lepas dari adanya perubahan persepsi generasi muda terhadap makna pernikahan. Jika sebelumnya pernikahan dipandang sebagai sebuah ritual sakral dalam kehidupan, kini pandangan tersebut mulai bergeser.
“Gen Z mengalami perubahan persepsi terhadap pernikahan. Pernikahan sudah tidak lagi dianggap sebagai ritualitas yang sakral. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi, mulai dari persoalan ekonomi, jaminan masa depan, hingga ketidaksiapan mental,” paparnya.
Puguh menegaskan, tren penurunan angka pernikahan ini harus dibaca sebagai alarm serius bagi keberlangsungan demografi di Jawa Timur maupun Indonesia secara umum. Jika dibiarkan tanpa langkah antisipatif, kondisi ini berpotensi menimbulkan ancaman besar terhadap struktur demografi di masa depan.
“Salah satu ancamannya adalah terjadinya aging population, yaitu kondisi di mana jumlah penduduk lanjut usia lebih besar dibandingkan jumlah usia muda dan produktif,” terangnya.












